Tim Contributor :
Krisnawan : 22083010068
Talitha Adilla Fujisai P.P : 22083010079
Cahya Eka Melati : 22083010090
Wahyu Putra Pratama : 22083010092
Hanin Anindya Putri : 22083010086
Proyek ini membangun model klasifikasi pneumonia berbasis citra Chest X-ray menggunakan arsitektur EfficientNetB0 dengan pendekatan transfer learning. Model bertujuan untuk mengklasifikasikan citra ke dalam dua kelas: Pneumonia dan Normal.
- Task : Binary Image Classification
- Domain : Medical Imaging
- Model : EfficientNetB0 (Pretrained ImageNet)
- Framework : TensorFlow & Keras
- Environment : Google Colab
- Output : Model klasifikasi pneumonia
Dataset disusun mengikuti standar Keras ImageDataGenerator:
pneumonia/
│
├── train/
│ ├── NORMAL/
│ └── PNEUMONIA/
|
│└── val/
| ├── NORMAL/
| └── PNEUMONIA/
|
└── test/
├── NORMAL/
└── PNEUMONIA/
Train: 4684 | Val: 586 | Test: 586
Langkah preprocessing meliputi:
- Ekstraksi dataset dari file
.zip - Pembersihan folder tidak valid
- Validasi struktur direktori
- Pengecekan jumlah data per kelas
Hal ini penting untuk mencegah data leakage, terutama pada domain medis.
Model menggunakan EfficientNetB0 sebagai backbone dengan konfigurasi berikut:
- EfficientNetB0 (
include_top=False) - Global Average Pooling
- Dense Layer
- Output layer dengan sigmoid activation
Model dirancang untuk binary classification.
- Input Size : 224 × 224
- Loss Function : Binary Crossentropy
- Optimizer : Adam
- Metrics : Accuracy
- Output Activation : Sigmoid
Evaluasi model dilakukan menggunakan data test terpisah untuk mengukur performa generalisasi. Model menghasilkan probabilitas prediksi:
0→ Normal1→ Pneumonia
Model dapat disimpan menggunakan:
model.save("pneumonia_efficientnetb0.h5")- TensorFlow / Keras
- EfficientNet
- NumPy
- Matplotlib
Berdasarkan confusion matrix dan classification report, model menunjukkan performa yang seimbang pada kedua kelas dengan tingkat kesalahan prediksi sekitar 3,6%. Meskipun demikian,
keterbatasan dataset publik masih menjadi tantangan, sehingga pengembangan selanjutnya disarankan menggunakan data klinis yang lebih beragam, augmentasi lanjutan,
serta eksplorasi arsitektur atau mekanisme attention untuk meningkatkan robustnes dan generalisasi model.